Sajak Palu dan Batu
Senja gugur bersama daun-daun ketapang memerah di atas jalan beraspal
Satu perjalanan hari menuju malam nan dingin pada tanah berbukit batu
Tatkala palu pemecah batu berhenti beradu dan lampu-lampu mulai dinyalakan
Di situ langkah-langkah terhenti bersimbah letih
Jemari dan telapak tangan perih pedih adalah sahabat palu
Tidak pernah lagi kugengam tangan kekasih seerat gagangnya dan gagang cangkir kopi
Takut aku membelai wajah anakku sebab di sana akan tertinggal goresan
sebab telapak tangan bagai cadas
Aku mengeringkan keringat sambil menelan senja bersama kopi hitam dan gelap yang mulai mengental
Lalu memulai satu lagi permainan malam
Jika batu bisa berlari maka akulah pemburu yang mengendap-endap di sepanjang sungai kering
Mungkin sesekali akan mengerling lalu tanpa bergeming menatap tajam ke depan
Serasa sedang menerima berjuta kasih
Aku berterima kasih kepada batu atau entah kepada siapa yang menjadikannya ada
Sekalipun hari-hari membatu bersama palu
Batinku tidak menjadi satu batu